Dedy's posts with tag: renungan contemplate
Petikan Doa dan Suhbat yang disampaikan Mawlana Syaikh Hisham Kabbani selepas pembacaan Salawat Badr dan Madah "Yaa Rasuulallah Salamun 'Alayk". Lokasi: Masjid Bank Indonesia, Jakarta, Indonesia Agustus 2007. May Allah bless Mawlana Syaikh Hisham Kabbani. Untuk ceramah lengkapnya silakan lihat ke: http://sufilive.com/rnd.cfm?m=778&mt=Allah-swt-gave-us-a-way-to-save-ourselves BankIndonesiaSuhbat_0001.wmv (38.3 MB)
Tulisan salah seorang alumni Jepang. Memang benar, demikianlah adanya orang Jepang. Etos kerja mereka patut ditiru.
Pengalaman saya sendiri, saya dapat implant dua gigi emas saat di Jepang dengan biaya murah karena ditanggung Houken (Asuransi); cuman bayar sekitar 1-2 Man En, atau sekitar 100an Euro. Mana bisa spt itu di Netherlands? :-)
Walau, tentu saja ada kritik saya buat sistem Jepang. Saya kira Jepang perlu meniru sisi humanis Eropa. Jadi kerja keras-nya tidak sekedar karena "Harus bekerja keras", tapi benar-benar karena keikhlasan. Yaah, ini memang sulit untuk siapa saja, bangsa mana saja.
wassalam,
Dedy di Delft
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Etos Kerja Jepang
Oleh Yuli Setyo Indartono
Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta. Tulisan ini merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan beberapa kawan dekat kami di Jepang.
01. Kantor pemerintahan dan pelayanan publik
Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada semut yang diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam semut-semut yang sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus. Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat.
Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola serius utuh diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari system pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka para semut tersebut tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.
Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas Jepang: teliti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak hal, pertanyaan-pertanya an tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari RT, RW, Kelurahan dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan kejujuran.
Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien. Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya mendapatkan fasilitas diantar kesana-kemari pada saat mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya membaca prinsip the biggest (service) for the small yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-orang yang kurang beruntung.
Pameo kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah, tidak saya jumpai di Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana. Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah yang saya jumpai di Jepang.
Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami sempat terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga 10 kali lipat. Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas sebuah kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu, istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat yang keliru tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam bekerja, secara umum, menyangkut kehormatan di Negara ini.
Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Jepang akan sebuah paradigma bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja. Saya membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda melintasi kantor walikota (shiyakusho) . Sebagian besar lampu di kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja versi Jepang.
02.Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian
Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada permukaan beberapa buah-buahan sesuai dengan harga murah yang disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut, penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali memastikan niat kami membelinya. Sembari tersenyum, tentu saja kami mengatakan daijobu (tidak apa-apa), karena kami sudah melihatnya dari awal. Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan.
Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh sesuai dengan yang tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen (mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada pemaksaan untuk menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat sepele hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-beli .
Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan karena keriangan anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali melibatkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas supermarket melihat dan segera mengganti barang-barang tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini adalah kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket menyahut daijobu yo (tidak apa-apa).
Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah etunjuk pada anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah memastikan bahwa everything is OK. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak seperti semut. Di sebuah toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi komputer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda beli .
03.Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi
Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe demi melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi) yang gagah mengendarai motor besar bak Chip ini jumlahnya sedikit. Namun polisi kota besar seukuran Kobe salah satu kota metropolis di Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya melihat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker), kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot dan berisi. Tak heran saya melihat mas-mas polisi muda berkacamata melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu melihat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang akan bekerja.
04.Lingkungan hidup dan transportasi
Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini hampir separuh populasi Republik tercinta. Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan kebersihan. Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan-jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang mempersiapkan dialog dengan dokternya.
Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen (kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di Jepang, kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.
Nasehat tengoklah dulu kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda akan selamat sampai ke seberang, tanpa perlu menengok kiri dan kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia, kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota ini.
05.Kesehatan dan rumah sakit
Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih mampu memajukan bangsa dan negaranya. Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30% dari biaya berobat.
Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu asuransi - apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar-benarnya. Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit. Alhamdulillah kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan kemudian.
Saling percaya adalah kuncinya.
Yuli Setyo Indartono. Alumnus Graduate School of Science and Technology, Kobe University, Japan. E-mail: indartono@yahoo. com
Sebuah artikel amat bagus dari Zaim Uchrowi di Republika.. Semoga Allah Ta'ala menjadikan istri dan putri-putri saya mampu meneladani mereka. Aaamiin. =========================================== Sumber: http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=320258&kat_id=19Jumat, 18 Januari 2008 Perempuan Perkasa Oleh : Zaim Uchrowi Orang-orang menyebutnya Bu Ali. Seorang perempuan tua, lengkap dengan guratan ketuaan di wajahnya, yang saban hari masih aktif berkeliling menarik kotak Yakult yang dijualnya. Tak ada yang tampak istimewa dari perempuan itu sampai kita mendengar sepenggal kisah dari kehidupannya. Begini; "Suatu hari, orang-orang ribut. Katanya, ada bayi ditemukan di tempat sampah. Saya dipanggil karena saya dukun pijat bayi. Saya datang. Bayi itu dibungkus dengan kain ulos Batak. Waktu saya buka, masya Allah, bayi itu tidak punya kulit. Jadi bayinya merah daging, dengan di beberapa bagian telah menggembung ...." Bu Ali membawa pulang bayi itu. Ia sempat membawanya beberapa kali ke klinik. Entah penanganan apa yang diberikan. Yang pasti akhirnya bayi itu tetap kembali ke pangkuan Bu Ali, yang terus berpikir keras menyelamatkan sang bayi. Sebagai alas tidur bayi, ia menyiapkan daun pisang. "Saya takut badannya lengket kalau alasnya kain." Tentu ia harus mencari daun pisang setiap hari, sebagaimana halnya menyiapkan air hangat buat mandi sang bayi. Tak ada orang lain yang sanggup memandikan bayi itu. Perasaan jijik dan tidak tega bercampur menjadi satu. Para tetangga saban waktu datang ke rumahnya, sekadar untuk melampiaskan rasa ingin tahu, lalu bergidik 'hiii ....' Dengan tangan telanjang Bu Ali mengusap setiap senti daging merah bayi itu. Masih ada semacam kulit tipis di beberapa bagian tubuh bayi itu. Kulit tipis itu mengelupas saat dimandikan. Begitu pula kuku-kuku tangan dan kakinya. Usai memandikan, ia akan mengusap seluruh permukaan tubuh bayi itu dengan minyak zaitun, lalu menjemurnya di sinar matahari. Getah bening akan keluar dari seluruh permukaan daging itu. Bu Ali akan mengelapnya hingga bersih, sebelum mengusapnya kembali dengan minyak bayi. Bila malam, ia akan mengusapnya dengan semacam talek bayi. Hari demi hari Bu Ali melakukan itu. Beberapa bulan ketekunannya berbuah. Lapisan kulit tipis menutupi daging itu. Secara berangsur kulit itu menebal menjadi kulit normal yang terang. Dengan segala kekurangannya, Bu Ali merawatnya hingga kini menjadi pemuda yang keren dan jenius. Selangkah lagi bayi buangan tak berkulit itu akan menjadi sarjana dari sebuah universitas negeri. Bukan kali ini saja Bu Ali mengasuh anak. Ada bayi yang diasuhnya setelah sang ibu diusir dan terpaksa menggelandang di pasar. Ada anak tanggung yang bingung di jalanan karena ditinggal begitu saja oleh pamannya. Anak-anak itu ditampungnya hingga dewasa dan mendapat kerja. Kini Bu Ali harus mengasuh tiga cucunya. Ibu anak itu meninggal setelah lama dirawat di rumah sakit. Ia dihajar suaminya, begitu memergoki sang suami itu berzina di kamarnya sendiri. Bu Ali juga harus pasang badan sendirian menghadapi puluhan warga RT tetangga yang ingin membongkar warung kecil penopang ekonomi keluarganya. Penghasilan suaminya sebagai pekerja di pompa bensin kecil, jauh dari memadai. Ia memang bukan Tjoet Nya' Dhien, Nyi Ageng Serang, atau Joan D'Arch. Tapi, ia juga seorang perempuan perkasa. Sebuah model keperkasaan yang ditunjukkan secara luar biasa oleh Khadijah. Khadijah, di usianya yang lebih dari setengah abad, pulang balik mendaki Gunung Nur mengantarkan makanan bagi suaminya, Muhammad SAW, berkontemplasi di sana. Ia yang selalu membesarkan hati Nabi, baik saat gamang karena wahyu lama tak turun, maupun saat penistaan dan pengucilannya di Makkah. Keperkasaan serupa ditunjukkan oleh Ummu Salamah yang dinikahi Nabi setelah Khadijah wafat. Di Hudaibiyah, ketika para sahabat memboikot seruan Nabi karena menolak perjanjian dengan Quraish, Ummu Salamahlah yang menjadi pemberi solusi. Keluarga, masyarakat, bahkan negara akan berjaya bila perempuannya perkasa. Itu yang diajarkan agama. Keperkasaan perempuan pula yang menjadi salah satu kunci kejayaan bangsa Cina kini. Itu terjadi setelah Mao melarang pemakaian sepatu kecil yang membelenggu kaki perempuan. Mao juga mendorong para perempuan aktif mengaktualisasi diri, dan bukan untuk bermanja menikmati menjadi penghibur (dan kadang sasaran pelecehan) suami. Figur Khadijah cukup menginspirasi bangsa ini untuk menjadikan para perempuannya perkasa seperti Bu Ali. Itu yang akan menjadikan rumah-rumah tangga, masyarakat, bahkan bangsa berjaya dan bahagia.
Dan Salju itu pun terasa hangatDan ketika salju menyiram,haruskah dingin kurasa?Sedang hangatnya api Cinta-Mutengah menyaladalam qalbu nan membara?Sedang api pun dapat menjadi dingin dan selamatbagi Ibrahim*oleh cahaya imannyadan cinta-Mu padanya.Yaa Robbiy, Dalam kerumunan manusia pun diri 'kan merasa sepi bila cinta-Mu tak hinggapi dedaunan hati ini Dan dalam kesendirian hamba dan sunyinya malam hampa kebahagiaan, dan ketenangan pun bukan halangan selama cinta dan dekapan diri-Mu memenuhi ruangan ranting dan dedaunan hati ini.Yaa Rabbiy, Sesungguhnyalah... Cinta dan Keindahan-Mu meliputi diri kami setiap saat setiap tempat.hanya... Nafsu dan Hawa' ** telah menghijab telinga dan mata hati ini...hingga... keindahan dan cinta-Mu hanya dapat kami cerapi saat salju musim dingin menyiram bumi saat bunga bermekaran di musim semi saat jernihnya langit musim panas memayungi diri dan saat kuningnya dedaunan musim gugur menyentuh hatiYaa Rabbiy, cucilah hati ini dengan siraman hujan embun, dan salju musim ini seperti telah Kau siramkan mereka ke muka bumi di hari ini.Hingga... suci hati kami dan tak ada beda lagi dalam mata dan telinga relung hati kami antara api dan salju, antara siang dan malam, antara matahari dan bulan, antara langit dan bumi, antara musim panas dan musim dingin, antara keramaian dan kesendirian, antara bencana dan karunia.melainkan hanya Keesaan Cinta-Mu, Keesaan Keagungan-Mu, dan Keesaan Keindahan-Mu dalam semua itu...Syukr Yaa Rabbiy, Syukr, AlhamdulillaaaahDelft, Winter 2003Catatan: * QS 21:69 ** Hawa': keinginan rendah dari nafsu dan bersifat
LOVE AND SEPARATION
In the heart, love is a flame, in the spirit a light.
Grief of separation consumes the lover, and yet even in gloomiest hours,
he never despairs of “spring”; journeying from desert to desert
amid bitter tears in ever-constant hope of the union he desires.
He weeps from deep within a heart like embers,
always alert and on the move as if chasing a gazelle,
drunk upon hope of the beloved who eludes him
and whom he finds again in his nightly dreams.
Phantoms of anxiety beset his spirit,
on his face now joy shines like sunrise, now sunset gloom;
at times the door is ajar on a far landscape just perceptible,
it’s colors and tones hinting Paradise.
A moment comes when despair overwhelms and hope seems unrecoverable,
and then another when dawn breaks in perfumed brightness.
At times he withers like leaves,
melts like candles, and his sobbing is heard from afar.
Even then, in never-ending autumn, the root of his desire flowers in hope,
he transforms the grief of separation into longing music,
makes deepest wells of sorrow brim with joy,
celebrating the immortality of Love.
In the deep wells of his eyes a meaning settles
from the eternal life and is present in his looks and smile;
his feelings sound the depths of eternity, the flow out
like soil-enriching river floods or fertile winds.
Whoever truly loves understands love is everything;
that it may be either fatal poison or elixir of life;
but whoever loves the Truth and pursues the ways to the Eternal Being
knows it as inspiration, as life.
a poem by Fethullah Ghullen
Love songs of the Past | Can't We Try | | Dan Hill | | Dan Hill | | | Dan Hill - I Fall All Over Again | | | | | | | In Your Eyes | | Let Me Show You: Greatest Hits & More | | Dan Hill | | | Never Thought | | Dan Hill | | Dan Hill | | | Sometimes When We Touch | | Sometimes When We Touch | | Dan Hill | | | Why Do We Always Hurt the Ones We Love | | Dan Hill | | Dan Hill | |
Habib 'Ali al Jifri gives a very emotional lesson about mankind representing the message of the Beloved Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him). Let us follow the way of our Prophet. Import.flv (41.0 MB)
Azan Bilal selepas wafatnya Rasulullah s.a.w. membangkitkan kenangan penduduk Madinah akan Rasulullah s.a.w.
Allahumma salli 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala aalihi wasahbihi wasallim ajma'iin. Import.flv (23.3 MB)
Teladan para Sahabat dalam berhubungan dan mencintai Rasulullah sallAllahu álayhi wasallam selepas wafatnya beliau: Ziarah, Tawassul dan Tabarruk pada Nabi s.a.w.
Allahumma salli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala aali sayyidina Muhammadin wasallam.
Import.flv (23.6 MB)
sambungan...
Inna lillahi wa inna ilayhi raji'un Saat Naza' wafatnya Rasulullah S.A.W.
Allahumma salli 'ala sayyidina Muhammad wa 'alaa aali sayyidina Muhammad wasallam Import.flv (22.2 MB)
Salam perpisahan Baginda Rasul s.a.w. kepada para sahabatnya di saat Fajar, hari Senin 12 Rabi'ul Awwal, tahun wafatnya Nabi. Kemudian Al-Habib 'Ali menceritakan saat-saat sedih ketika Rasulullah s.a.w. didatangi oleh Jibril dan Malaikat Maut memohon izin dari baginda Nabi s.a.w. untuk mencabut ruh beliau
Allahumma salli ala Saiyidina Muhammad wa ala aali Saiyyidina Muhammad... Import.flv (19.0 MB)
sambungan.. Hanya Sayyidina Abu Bakar r.a. yang memahami bahwa khutbah Rasulullah S.A.W. adalah tanda perpisahan beliau kepada para Sahabatnya.
Disambung dengan wasiat Rasulullah dan dialog beliau dengan para sahabat menjelang wafatnya.
Allahumma salli ala saiyyidina Muhammad wa ala ali Muhammad Import.flv (7.5 MB)
Saat-saat akhir Rasulullah s.a.w. saat mengerjakan Haji Wada', dan setelahnya.
Allahuma salli 'ala Sayyidina Muhammad wa ala aali Muhammad... Import.flv (7.1 MB)
| Category: | Movies | | Genre: | Science Fiction & Fantasy |
Tadi malam kembali genap, menonton trilogy film MATRIX, di salah satu stasiun televisi di Belanda sini. Ada banyak hikmah yang bisa ditarik dari trilogi film tersebut. Salah satu ulasan yang menarik tentang analogi Mursyid-Murid yang tergambarkan dalam trilogi film tersebut, khususnya film pertama The Matrix, saya jumpai di blog tentang suluk (lihat di halaman link http://dedyhbw.multiply.com/links/item/6). Ulasan tentang analogi Mursyid-Murid tersebut sebagai berikut: ======================================================== dari: http://suluk.blogsome.com/2006/06/22/the-oracle-sebuah-analogi-sederhana-untuk-memahami-sang-mursyid/Thursday, June 22, 2006 ‘The Oracle’ : Sebuah Analogi Sederhana Untuk Memahami Sang Mursyid Posted by Herry @ 14:01 | in Artikel, Kolom | + to del.icio.us | e-mail this Oleh Muhammad Sigit (Yayasan Paramartha), 1999. ‘The Oracle’ dalam ‘The Matrix I’. Ini bukan nama perusahaan software. Ini adalah nama seorang wanita tua di dunia Matrix. Ia hanyalah seorang tukang masak kue, gemuk, berkulit hitam, perokok, tingal di sebuah apartemen kelas bawah dan memiliki beberapa murid anak kecil. Di film itu pun, ia hanya muncul sekali. Dengan percakapan yang sederhana, dan mengalir begitu saja. Sama sekali tidak tampak kelebihan dalam dirinya. Tapi dialah sosok ‘mursyid’ di film ini. Saya terus terang agak heran, bagaimana film ini bisa bercerita demikian detil. Termasuk penggambaran sosok mursyid yang lumayan akurat analoginya. Analogi for beginners ini bisa digunakan sebagai ilustrasi bila kita ingin mengetahui, seperti apa sih Mursyid itu, bagaimana dia membimbing kita, dan sebagainya. Sewaktu di lift menuju ruangan The Oracle, Neo dan Morpheus sudah bercakap-cakap dengan menarik. Neo: “Apakah Oracle ini adalah Oracle penubuwwah?” Morpheus: “Ya, dia sangat tua. Dia sudah mengiringi kita sejak awal perlawanan.” Neo: “Apa yang dia tahu? Segalanya?” Morpheus: “Dia akan berkata, bahwa dia hanya mengetahui secukupnya.” Neo: “Dan dia tak pernah salah?” Morpheus: “Cobalah untuk tidak berpikir benar atau salah. She is a guide, Neo. Dia membantu kita untuk menemukan.” Neo: “Dia menolongmu?” Morpheus: “Ya”. Neo: “Apa yang dikatakannya padamu?” Morpheus: “Bahwa aku akan menemukan The One.” Memang bila kita berhadapan dengan seorang mursyid, kita perlu menanggalkan sejenak parameter-parameter kita tentang benar dan salah menurut waham kita, karena itu bisa memerangkap kita. Kita ini seperti orang buta, sementara dia tidak buta. Bagaimana mungkin kita bisa menghakimi? Sang mursyid pun, tidak akan mengindoktrinasikan kepada kita tentang hukum-hukum kebenaran atau kesalahan. Dia hanya membimbing, agar kita dapat mengenali kebenaran. Dia akan berusaha untuk menjadikan setiap kita sebagai aktor utama dalam kehidupan kita sendiri, bukan Sang Mursyid yang menjadi aktor utama. Selanjutnya Neo pun memasuki apartemen milik Oracle dan menemukan banyak anak kecil yang sedang asyik bermain-main dengan ‘karomah’-nya. Ada yang main kubus yang seolah tak terikat hukum gravitasi. Ada pula yang sedang asyik membengkokkan sendok hanya dengan pikiran. Dikatakan, bahwa mereka adalah calon-calon potensial untuk menjadi The One. Saya lewati ini karena akan jadi tulisan terpisah. Setelah menunggu sejenak, Neo pun diundang untuk ke dapur menemui The Oracle. Dia ternyata sedang asyik memasak kue. Neo: “Apakah anda The Oracle?” The Oracle: “Bingo. Tidak seperti yang kamu sangka bukan? Aku akan mempersilahkan kamu duduk, dan kau tak perlu khawatir tentang vas bunga itu” Neo: “Vas apa?” Ternyata tepat setelah itu Neo menyenggol vas bunga yang ada di sampingnya, hingga jatuh dan pecah. Kemudian Oracle berkata, “Vas yang itu.” Neo pun gugup, “I’m sorry.” The Oracle: “Sudah aku katakan jangan khawatir terhadap vas itu. Bagaimana kita bisa merubah sesuatu yang sudah ditetapkan?” Istri saya paling senang dengan adegan ini. Istri saya geli melihat bagaimana cara seorang mursyid menunjukkan siapa dirinya. Karena Neo pada saat itu agak ragu, melihat Oracle yang ‘tampilan luarnya’ seperti itu. Tapi yang membuat saya menyimpulkan The Oracle-lah sang Mursyid dalam kisah ini, justru dari percakapan berikutnya yang saya sarikan sebagai berikut. The Oracle: “Kamu tahu mengapa Morpheus membawamu ke sini?” Neo pun mengangguk. The Oracle: “So, what do you think? Do you think you are The One?” Neo: “Honestly, I don’t know.” The Oracle: “Aku akan beritahu kamu suatu rahasia. Menjadi The One adalah seperti jatuh cinta. Tak ada yang bisa memberitahumu, melainkan kamu sendiri yang tahu. So, you’re ready to know.” Neo: “Know what?” The Oracle: “That I’m not going to tell you.” Neo: “That I am not The One.” Begitulah sang Mursyid. Dia tahu apa yang terbaik buat saliknya. Oracle tahu, bahwa informasi Neo adalah The One telah membelenggu jiwanya. Sehingga tanpa sadar dia merasa spesial. Maka Oracle harus mematahkan waham tersebut dengan kalimat-kalimatnya yang menuntun. Neo sendirilah yang akhirnya menyimpulkan bahwa dia bukan The One sebagaimana yang diyakini Morpheus. Dan kesimpulan ini penting bagi Neo, agar dalam menemukan kesejatiannya, tidak boleh terhambat oleh pandangan dan sikap orang lain, meski siapapun berhak untuk memandangnya seperti itu. Dan lepasnya ia dari belenggu faham The One adalah dirinya, hal ini justru membuatnya jadi bisa mengambil keputusan penting: siap berkorban untuk menyelamatkan Morpheus. Mursyid pun membimbing saliknya secara personal. Dia tampil beda bagi setiap saliknya, sesuai dengan yang dibutuhkan bagi perjalanan sang salik. Seperti kata Morpheus setelah Neo keluar dari dapur, “Ingatlah, apa pun yang dikatakan Oracle kepadamu, itu hanya untuk dirimu sendiri.” Mursyid tidak berperan seperti ustadz, mubaligh atau da’i. Bimbingannya tidak dibatasi oleh podium, pengajian maupun tulisan atau buku. Seorang mursyid benar-benar tidak merasa butuh untuk dikenal ataupun terkenal. Meski saliknya bisa ribuan jumlahnya, dia mampu membimbing mereka secara personal, person to person. Tentu dengan caranya. Sebagaimana Rasulullah Muhammad saw yang menjadi berlaku demikian kepada setiap sahabatnya. Ya, begitulah kurang lebih gambaran interaksi salik-mursyid-salik di dunia tasawuf. Kepada Morpheus, Oracle berkata bahwa Morpheus akan menemukan The One. Dan dalam proses pencariannya selama bertahun-tahun, akhirnya Morpheus menemukan Neo, yang amat diyakininya sebagai The One. Oracle tak pernah menunjukkan langsung kepada Morpheus siapakah The One, dia hanya membimbing. Adalah suatu pencapaian bagi Morpheus ketika menemukan Neo adalah The One. Keyakinan ini penting bagi Morpheus untuk melakukan tugasnya. Kepada Neo, Oracle justru memandu agar Neo meyakini sebaliknya, bahwa dia bukan siapa-siapa. Keyakinan ini penting bagi Neo untuk bisa melaksanakan tugasnya sebagai The One. Kepada Trinity, Oracle mengabarkan, bahwa ia akan jatuh cinta kepada The One. Trinity tampaknya tipikal wanita yang susah jatuh cinta, mungkin karena saking pintarnya (hackerwati). Sehingga bagi Trinity dasar keyakinannya adalah, siapa pun yang bisa membuatnya jatuh cinta, itulah The One. Kepada setiap muridnya, apa yang dikatakannya bisa tampak tidak sama, walaupun pada akhirnya tujuan peruntuhan waham tersebut bisa sama. Setiap murid memerlukan ‘makanan’ yang berbeda-beda. It’s a huge difference between knowing the path and walking the path Dipikir-pikir, sebenarnya kita rugi besar kalau tak terbiasa menghayati proses. Justru nikmatnya hidup itu, adalah ketika munculnya kesadaran akan proses tersebut. Kita mungkin sudah amat terbiasa berfikir akan pencapaian. Bila kita baca sirah nabawiyyah, yang kita tangkap adalah kemuliaan dan kebesaran Baginda Rasulullah Muhammad saw beserta keluarbiasaan para sahabatnya. Bagaimana mulianya akhlaq Rasulullah saw. Bagaimana adilnya beliau kepada istri-istrinya. Bagaimana beliau bisa hadir secara personal di setiap hati para sahabatnya. Bagaimana belau bisa mencetak para sahabatnya menjadi pribadi-pribadi luar biasa. Dan bagaimana pula pribadi-pribadi luar biasa itu berkiprah dalam sejarah Islam. Bila kita membaca sejarah Islam, yang kita tangkap adalah masa-masa keemasan peradaban Islam. Betapa dulu, Islam dipenuhi dengan orang-orang hebat, jenius, revolusioner sekaligus mulia akhlaqnya. Itulah yang kita tangkap. Akibatnya, kini kita seperti memandang bintang-bintang di langit. Tak terjangkau. Hanya bisa berharap (sambil ragu) akan kembalinya masa-masa itu. Di satu sisi kita (berusaha untuk) yakin dengan janji Allah, di lain sisi kita menemukan fakta betapa jauhnya kita. Pola Hollywood, di mana segalanya berakhir happy ending, penonjolan figur-figur sentral yang dominan dan remehnya figur-figur lain di sekelilingnya, mungkin terlalu melekat di benak kita. Sehingga mempolakan model kehidupan tersebut dalam diri kita. Semua kita bersaing untuk menjadi yang “ter”. Padahal surga akan kita raih ketika kita telah menjadi diri kita sendiri sepenuhnya. Kita jadi kurang menghargai proses. Terlalu terbiasa memandang bintang di langit, padahal bintang itu juga ada dalam qolb kita. Padahal kalau kita menghargai proses dan mensyukurinya, maka seperti kata Allah, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. 14:7) Masing-masing kita bisa menjadi yang terbaik, dalam bidang kita masing-masing. Setiap kita diciptakan untuk sebuah tujuan yang spesifik, bukan sekedar tujuan umum yang general. Masing-masing kita harus menemukan pada wilayah apa kita bisa menjadi yang terbaik, karena setiap orang diciptakan untuk ‘apa yang dijadikan Allah mudah baginya.’ (Al-Hadits). “Setiap orang dimudahkan untuk mengerjakan apa yang telah Dia ciptakan untuk itu.” (Shahih Bukhari no. 2026) Menghayati dan menikmati proses The Matrix pun bercerita tentang Neo yang berproses. Dari seorang yang terlelap di dunia Matrix, kemudian menjadi seorang hacker, kemudian memilih mempercayai Morpheus dan akhirnya meminum pil merah dan terbangun dari mimpinya. Ia menyaksikan bahwa ternyata ada kehidupan yang lebih sejati, lebih nyata, dari kehidupan yang selama ini ia pikir adalah sebuah ‘kenyataan’. Setelah hidup di alam real (Nebuchadnezar) pun, Neo masih terus berproses. Mengikuti training simulation, meraih pengetahuan dari The Oracle dan muridnya yang lain, dan kemudian mengamalkan pengetahuan tersebut. Bahwa Neo adalah The One, dia berproses dari (1) sekedar waham (persangkaan). Kemudian (2) peruntuhan waham tersebut (peng-nol-an). Lalu (3) beramal sholeh sebagai The One. Pada posting terdahulu, sudah terjelaskan proses yang terjadi pada poin (1) dan (2), dimana proses peng-nol-an terjadi. Proses peng-nol-an ini adalah kunci, yang bila dilakukan akan menampakkan hakikat diri seseorang. Dalam tasawuf, dikenal dengan istilah fana. Bayangkan sebuah studio rekaman, di mana semua komponen lagu seperti vokal, suara gitar, suara synthesizer, suara perkusi dan sebagainya, direkam terpisah untuk kemudian di mix (dicampur) ke dalam satu pita rekam tunggal. Bila kita ingin mengidentifikasi mana di antara itu semua suara yang datang dari simbal, tinggal kita nolkan semua suara selain simbal. Tentu ini semua hanya bisa kita lakukan di studio rekaman. Selagi kita masih berupa kaset, jangan berharap. Sewaktu akan menyelamatkan Morpheus, Neo sudah sampai pada poin (2). Dia sudah menyadari, bahwa baginya dia itu bukan siapa-siapa. Dan dalam kondisi seperti itu, ternyata ia mampu menyelamatkan Morpheus. Padahal langkah tersebut, bagi Tank dan Trinity adalah langkah bunuh diri. Neo bisa berbuat seperti itu karena dia beramal dalam kondisi nol (fana). Dan karena Neo memang sejatinya adalah The One, maka ketika dia fana muncullah sosok The One dalam dirinya. Itulah adegan penyelamatan Morpheus. Dan di akhir adegan ini ada kalimat Morpheus yang penting sekali bagi kita. Waktu Neo ingin memberitahu, bahwa dari Oracle dia mengetahui bahwa dia itu bukan siapa-siapa, Morpheus menyela, “She told you exactly what you need to hear. That’s all. Neo, sooner or later you going to realize it: It’s different between knowing the path and walking the path.” Wassalamu’alaykum wr. wb. []
Bismillahirrahmanirrahiiim
Di bawah adalah suatu dialog di salah satu milis yang saya ikuti. Mudah-mudahan dapat kita tarik pelajaran, agar kita selalu seimbang dalam memandang suatu masalah. Antara khauf dan raja', antara cemas dan harap. Keduanya harus ada, dan tidak boleh berat sebelah.
786,
Pertama, Marilah kita melihat setiap permasalahan secara lebih objektif dan rasional, serta tidak emosional. Tidak semua kasus-kasus yang disebutkan dalam tulisan tersebut adalah mimpi kosong. Sebagiannya adalah visi, yang hanya karena kesalahan manajemen fisik maupun qalbu, tidak terealisasi dan menjadi kegagalan.
Mengenai produksi pesawat terbang dan kapal misalnya. Pak Habibie saat itu memiliki visi bahwa Indonesia perlu memiliki alat transportasi dan perhubungan yang murah, yang bisa menghubungkan kota dengan kota lain, baik dalam satu pulau maupun ke pulau yang berbeda. Pesawat yang dibutuhkan dalam hal ini adalah pesawat jarak jangkau pendek dan menengah. Karena itulah IPTN saat itu, memulai dengan C-212, dan dilanjutkan dengan CN-235. Keduanya adalah pesawat dengan kapasitas penumpang kecil, dan jangkauan pendek-menengah, cocok menjangkau kota dalam satu provinsi atau satu pulau. Visi ini hendak dilanjutkan dengan N-250 dan N-270 dengan mesin jet, untuk jangkauan lebih jauh, antar pulau. Sayang, karena krisis proyek ini mesti berhenti.
Artinya, visinya ada, dan baik, serta realistis untuk kondisi geografis Indonesia. Kegagalan terjadi pada mis-management dalam pt IPTN saat itu, misal korupsi internal, pengadaan barang yang kurang efisien (stocking terlalu banyak) dlsb. Dan perlu pula diketahui bahwa industri strategis ataupun infrastruktur semacam industri pesawat terbang dan perkapalan, sangatlah membutuhkan dukungan negara. Ini karena ROI-nya lama, dan private sector kurang mau invest di sini. Ini tidak hanya di Indonesia saja. Di semua negara, yang namanya industri strategis dan infrastruktur, pasti ada komponen pemerintah yg mesti invest dulu di situ. Jepang: dengan JR-nya, Belanda dengan NS-nya, utk perkereatapian.
Kasus Bola Beton untuk penanganan lumpur. Apakah sebenarnya yang menjadi sebab kegagalannya. Sudahkah kita bertabayyun ke pelaksana proyek di lapangan. Apakah tekniknya yang salah? ATaukah karena ketidaksinambungan pelaksanaan solusi itu? Sebelum ada kejelasan, semestinya kita tidak mudah menjatuhkan tuduhan pada siapa pun. Yang jelas, saya kira semua pihak di lapangan telah bekerja keras memecahkan masalah lumpur LAPINDO ini. Dan setiap orang yang pernah mencicipi dunia 'problem-solving' tahu, bahwa seringkali kerja keras tidak cukup. Butuh 'keberuntungan', atau bahasa kita barakah, 'inayah, dan tawfiq pertolongan Allah. Kewajiban kita sebagai manusia, hanyalah berusaha sekuat tenaga, sambil berdoa dan menggantungkan harapan pada Ia Yang Maha Kuasa.
Demikian pula dengan penyumbangan terhadap korban banjir di negara tetangga. Adakah ini salah? Bukankah Nabi kita bersabda, "Man aamana billahi wal yaumil aakhir, fal-yukrim jaarahu" "Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tetangganya". Nabi pun dan para Sahabat beliau seringkali berlapar diri, merelakan makanan mereka untuk disadaqahkan bagi tetangga atau sahabat mereka yang kelaparan. Rupanya Bapak SBY pemimpin kita tengah menerapkan teladan Nabi. Maasya Allah wa Insya Allaah.
Demikian pula studi banding ke LN. Jangan terburu apriori dulu. Bukankah kita pun, mudah sekali mengkritik negeri kita, ketika kita berada di Luar Negeri, ketika kita out-of-the-box? Saat kita di LN, pandangan dan wawasan pun terbuka. Lebih bisa memandang masalah dengan jernih, dan tersadarkan bagaimana bangsa / negara lain dapat memecahkan masalah serupa, serta membuka peluang kerja sama dengan pihak terkait di LN. Berkunjung ke LN adalah implementasi teladan Nabi untuk Silaturahmi, yang menurut kanjeng Nabi adalah memperpanjang umur dan mendatangkan rezeki. Dus, sepanjang kunjungan ke LN tersebut terencana, dan dilakukan dengan budget yang cukup dan hemat serta transparan, mengapa tidak?
Mengirim pasukan ke LN, sepanjang rasional dan dengan anggaran yang terencana mengapa tidak? Seringkali kita mengeluh bahwa Amerika Serikat atau negara-negara Eropa dan lain-lain, menginjak martabat kita ketika mereka mengirimkan pasukannya ke negeri-negeri muslim. Mengapa justru Indonesia dan Malaysia berinisiatif mengirimkan pasukannya sebagai penjaga perdamaian (bukan occupier), kita tidak bisa mengapresiasinya sebagai usaha seorang saudara mendamaikan krisis di saudara lainnya?
"Innamal Mu'minuuna ikhwah. Fa-ashlihuu bayna akhwaykum wattaqullaha la'allakum turhamuun"
[49:10] Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Saya bukan tidak setuju dengan keluhan teman-teman akan masalah korupsi dan kebobrokan moral di negeri kita. Namun, obyektiflah. Jangan semua kasus digeneralisasi untuk mendukung tesis kita, tanpa mencoba melihat dari sudut pandang yang lain.
Kedua, Tegaknya suatu negara, ada empat pilar, katanya: Keadilan pemimpin, kejujuran pengusaha/businessman, pengamalan lurus ilmu para ulama/scholar, dan doa orang awam.
Di sisi lain, Allah berfirman tentang pesan Ya'qub bagi anak-anaknya, "Walaa tay-asuu min rauhillaah. Innaahuu laa yay-asuu min rauhillah illa l-qaumil kaafirrin"
[12:87] "...dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".
Allah berfirman pula dalam Hadits Qudsi "Ana 'Indaa Zhannii 'abdi bii" "Aku bergantung pada persangkaan hamba-Ku tentang-Ku"
Dus, sebagai orang awam, marilah kita berhenti men-ternak-kan [ini istilah salah seorang Wali di Surabaya] pikiran-pikiran dan prasangka buruk dan kotor dalam hati kita. Mari kita perbanyak doa kebaikan agar Allah menunjuki jalan terbaik bagi pemimpin2 kita dalam memimpin negeri kita.
Mari memulai mengubah negeri kita, dengan mengubah diri kita sendiri. Mari mengejawantahkan nilai-nilai Salat dan Dzikir yang kita dawamkan tiap hari dan tiap minggu itu, dengan mem-vibrasi-kan energi keoptimisan pada diri kita, pada keluarga kita, dan pada ummat sekeliling kita.
"Innallaha laa yughayiiruu maa bi-qawmin hattaa yughayyiruu maa bi-anfusihim"
[13:11] "Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
Mari ubah diri kita masing-masing. Mari berhenti mengeluh. Ubah keluhan itu menjadi harapan untuk memecahkan tantangan itu. Dan tularkan semangat itu pada siapa-siapa yang berada dalam tanggung jawab kita masing-masing. Tidak sekedar semangat, namun dalam aksi dan tindakan nyata menolong dan membantu saudara kita di sana dengan apa pun yang bisa kita sumbangkan: tenaga, buku, jurnal, uang, online tutorial, dlsb.
Insya Allah, saya yakin kok, Allah itu cinta banget sama ummat Islam di Indonesia. Lha, kalau orang studi S1, S2, S3, makin dhuwur, kan makin banyak ujiannya. Deshoo?
Jangan patah semangat. Berusaha keras dan berdoa khusyu', serta berharap tawakkal, suatu saat Allah akan menjadikan negeri dan ummat di Indonesia, sebagai ummat yang bahagia dunia akhirat, penuh cinta dan kasih sayang.
Dus, Indonesia bukan Republik Mimpi, tapi Republik Visi. Insya Allah
Wallahu A'lam bissawab
Dedy van Delft
--- In NU-Nihon@yahoogroups.com, kholid sholeh wrote: > > Mimpi-mimpi Aneh di Negri Mimpi > > Banyak mimpi aneh di negri kita yang membuat kita menjadi bangsa pemimpi dan sebentar lagi kita mungkin akan menjadi bangsa yang halusinasif seperti orang yang ketagihan narkoba.dan justru banyak pejabat negara kita yang yang ikut membangun mimpi kosong tersebut. > > Dengarlah apa kata mas wimpie dibawah ini: > Di Zaman Soeharto, mobil Korea tiba-tiba diganti nama jadi Timor, dan disebut mobil nasional.Sangat beda dengan Malaysia yang boleh berbangga dengan mobil nasional yang diandalkan,Proton, yang sudah diekspor ke Indonesia juga. > > Ketika pemerintah masa lalu memproduksi pesawat terbang, itu sebenarnya sebuah mimpi besar yang sulit dimengerti, sepeda motor saja belum mampu, tiba-tiba pesawat terbang.Kenyataanny a walaupun pesawat dapat diproduksi, ternyata hanya sebatas ditukar beras ketan oleh Thailand .Artinya walaupun kita mempunyai ahli pesawat terbang, bukan berarti kita mampu menjadi produsen yang diminati negara lain. > > Kini cara penanganan Lumpur Lapindo yang telah setahun menyengsarakan rakyat merupakan sebuah mimpi.Membangaun tanggul dan memasukan ratusan bola beton merupakan tindakan sia-sia karena sumbernya tetap ada.Sementara itu,rakyat semakin sengsara karena selain hak miliknya lenyap,mereka hidup dipengungsian dengan makanan basi dan tanpa harapan yang jelas.Pernyataan yang muncul,mengapa tidak sejak awal meminta bantuan negara lain yang menguasai iptek? > Wajar bila muncul keraguan ataupun ketakutan terhadap rencana pembengunan tenaga nuklir yang pernah disampaikan di media. Mengatasi sampah dan Lumpur saja tidak mampu, bagaimana kalau ada masalah dengan nuklir? > > Dalam keadaan rakyat kelaparan di beberapa daerah, gedung sekolah ambruk dibanyak tempat,korban flu burung dan demam berdarah beranjak naik, terasa aneh dan menjengkelkan tiba-tiba kita menyumbang negara lain yang sedang mengalami musibah ( Ingat SBY pernah menyumbang korban banjir di Sabah Malaysia ) > > Dalam keadaan sangat banyak orang tidak mampu membayar uang sekolah ketingkat lanjut,para wakil rakyat plesiran ke luar negri atas nama studi banding.Mestinya, kalau ingin keluar negri pakailah uang sendiri atau tunggulah kalau ada yang mengundang kesana.Kita semua tahu utang negri ini masih segunung dan kita sangat bergantung kepada bantuan luar negri. > > Sementara itu pemerintah tidak mampu mengatasi kekacauan di beberapa daerah yang penuh genangan darah sesama bangsa dengan gagah kita mengirim pasukan kenegara lain yang sedang konflik,berbagai masalah keterbelakangan didalam negri tidak pernah diselesaikan dengan baik dan rakyat tetap saja dalam keterpurukan. > > Kita bangga menyebut diri sebagai bangsa religius dangan banyak tempat ibadah yang megah, di sisi lain korupsi semakin mengerikan,pembunuh an terus terjadi,kekerasan dalam rumah tangga merajalela,perusaka n terhadap milik orang lain terjadi setiap saat dan kita biarkan TKW kita dijadikan objek kekerasan seksual di luar negri.Sangat jelas itu semua bukan perilaku religius. > > Inilah sebagian kecil contoh kontradiksi yang terjadi di Republik mimpi .Dalam keadaan begini,siapapun akan sulit menjawab dari mana akan mulai memperbaiki bangsa yang terpuruk ini. > > Moralitas Semakin menakutkan > Semakin lama moralitas bangsa semakin menakutkan.Kerusaka n moral sudah menembus dinding dunia pendidikan kita.Tidak masuk akan sehat segerombolan murid SLTA merusak gedung sekolah mereka karena ada guru yang sangat ketat mengawasi pelaksanaan ujian nasional. > Sulit dicerna akal sehat manusia normal,kekerasan zaman purba yang dibiarkan berlangsung sekian lama di kampus IPDN sampai menelan banyak nyawa. > > Juga sangat mengerikan guru SLTA sengaja memberikan nilai fiktif dan bagus kepada muridnya agar diterima di universitas tanpa seleksi masuk(PMDK). Itu sudah menjadi rahasia umum di banyak kota.Karena itu banyak mahasiswa yang masuk universitas melalui jalaur PMDK, ternyata jauh dibawah mahasiswa yang masuk melalui jalur seleksi.Ternyata jalur PMDK dilalui dengan rekayasa oleh guru dengan menambah nilai rapornya. Dengan begitu,nilai rapor yang sudah ditambah itu tidak sesuai dengan prestasi sehari-hari. > > Kalau ketidak jujuran sudah tumbuh subur dalam dunia pendidikan kita, habislah sudah harapan menjadi bangsa yang lebih maju.Bukankah melalui pendidikan,sebuah generasi baru bangsa dilahirkan?Bukankah pendidikan laksana fondasi sebuah bangunan yuang bernama bangsa? > > Kita mancintai negri ini tetapi bukan berarti juga mencintai ketidak benaran yang ada. Termasuk perilaku yang menjijikan dan kebijakan banyak pejabat yang tidak benar.Saat ini saya yakin tidak satupun dapat menjawab, kapan republic ini tidak lagi menjadi "Republik Mimpi" > >
| Category: | Books | | Genre: | Religion & Spirituality | | Author: | Syekh Muhammad Hisham Kabbani ar-Rabbani |
Di bawah ini excerpt atau kutipan cerita dari buku tersebut. Insya Allah, sedang ada usaha untuk menerjemahkannya dari teman-teman di Indonesia.
=============================================================
Cerita pertemuan pertama al-Jailani dengan al-Hamadani berikut ini diriwayatkan oleh al-Haitsami dalam kitabnya, Fatâwâ Hadîtsiyyah: Abu Sa‘id Abdullah ibn Abi Asrun (w. 585 H.), seorang imam dari Mazhab Syafi’i, berkata, “Di awal perjalananku mencari ilmu agama, aku bergabung dengan Ibn al-Saqa, seorang pelajar di Madrasah Nizamiyyah, dan kami sering mengunjungi orang-orang saleh. Aku mendengar bahwa di Baghdad ada orang bernama Yusuf al-Hamadani yang dikenal dengan sebutan al-Ghawts. Ia bisa muncul dan menghilang kapan saja sesuka hatinya. Maka aku memutuskan untuk mengunjunginya bersama Ibn al-Saqa dan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, yang pada waktu itu masih muda. Ibn al-Saqa berkata, “Apabila bertemu dengan Yusuf al-Hamadani, aku akan menanyakan suatu pertanyaan yang jawabannya tak akan ia ketahui.” Aku menimpali, “Aku juga akan menanyakan satu pertanyaan dan aku ingin tahu apa yang akan ia katakan.” Sementara Syekh Abdu-Qadir al-Jailani berkata, “Ya Allah, lindungilah aku dari menanyakan suatu pertanyaan kepada seorang suci seperti Yusuf al-Hamadani Aku akan menghadap kepadanya untuk meminta berkah dan ilmu ketuhanannya.”
Maka kami pun memasuki majelisnya. Ia sendiri terus menutup diri dari kami dan kami tidak melihatnya hingga beberapa lama. Saat bertemu, ia memandang kepada Ibn al-Saqa dengan marah dan berkata, tanpa ada yang memberitahu namanya sebelumnya, “Wahai Ibn al-Saqa, bagaimana kamu berani menanyakan pertanyaan kepadaku dengan niat merendahkanku? Pertanyaanmu itu adalah ini dan jawabannya adalah ini!” dan ia melanjutkan, “Aku melihat api kekufuran menyala di hatimu.” Kemudian ia melihat kepadaku dan berkata, “Wahai hamba Allah, apakah kamu menanyakan satu pertanyaan kepadaku dan menunggu jawabanku? Pertanyaanmu itu adalah ini dan jawabannya adalah ini. Biarlah orang-orang bersedih karena tersesat akibat ketidaksopananmu kepadaku.” Kemudian ia memandang kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani, mendudukkannya bersebelahan dengannya, dan menunjukkan rasa hormatnya. Ia berkata, “Wahai Abdul Qadir, kau telah menyenangkan Allah dan Nabi-Nya dengan rasa hormatmu yang tulus kepadaku. Aku melihatmu kelak akan menduduki tempat yang tinggi di kota Baghdad . Kau akan berbicara, memberi petunjuk kepada orang-orang, dan mengatakan kepada mereka bahwa kedua kakimu berada di atas leher setiap wali. Dan aku hampir melihat di hadapanku setiap wali pada masamu memberimu hak lebih tinggi karena keagungan kedudukan spiritualmu dan kehormatanmu.” Ibn Abi Asrun melanjutkan, “Kemasyhuran Abdul Qadir makin meluas dan semua ucapan Syekh al-Hamadani tentangnya menjadi kenyataan hingga tiba waktunya ketika ia mengatakan, ‘Kedua kakiku berada di atas leher semua wali.’ Syekh Abdul Qadir menjadi rujukan dan lampu penerang yang memberi petunjuk kepada setiap orang pada masanya menuju tujuan akhir mereka.
Berbeda keadaannya dengan Ibn Saqa. Ia menjadi ahli hukum yang menonjol. Ia mengungguli semua ulama pada masanya. Ia sangat suka berdebat dengan para ulama dan mengalahkan mereka hingga Khalifah memanggilnya ke lingkungan istana. Suatu hari Khalifah mengutus Ibn Saqa kepada Raja Bizantium, yang kemudian memanggil semua pendeta dan pakar agama Nasrani untuk berdebat dengannya. Ibn al-Saqa sanggup mengalahkan mereka semua. Mereka tidak berdaya memberi jawaban di hadapannya. Ia mengungkapkan berbagai argumen yang membuat mereka tampak seperti anak-anak sekolahan. Kepandaiannya memesona Raja Bizantium itu yang kemudian mengundangnya ke dalam pertemuan pribadi keluarga Raja. Pada saat itulah ia melihat putri raja. Ia jatuh cinta kepadanya, dan ia pun melamar sang putri untuk dinikahinya. Sang putri menolak kecuali dengan satu syarat, yaitu Ibn Saqa harus menerima agamanya. Ia menerima syarat itu dan meninggalkan Islam untuk memeluk agama sang putri, yaitu Nasrani. Setelah menikah, ia menderita sakit parah sehingga mereka melemparkannya ke luar istana. Jadilah ia peminta-minta di dalam kota , meminta makanan kepada setiap orang meski tak seorang pun memberinya. Kegelapan menutupi mukanya.
Suatu hari ia melihat seseorang yang ia kenal. Orang yang bertemu dengan Ibn al-Saqa itu menceritakan bahwa ia bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi kepadamu?” Ibn al-Saqa menjawab, “Aku terperosok ke dalam godaan.” Orang itu bertanya lagi, “Adakah yang kau ingat dari Alquran Suci?” Ia menjawab, “Aku ingat ayat yang berbunyi, ‘Sering kali orang-orang kafir itu menginginkan sekiranya saja dulu mereka itu menjadi orang Islam’ (Q.S. al-Hijr [15]: 2).”
Ia gemetar seakan-akan sedang meregang nyawa. Aku berusaha memalingkan wajahnya ke Kakbah, tetapi ia terus saja menghadap ke timur. Sekali lagi aku berusaha mengarahkannya ke Kakbah, tetapi ia kembali menghadap ke timur. Hingga tiga kali aku berusaha, namun ia tetap menghadapkan wajahnya ke timur. Kemudian, bersamaan dengan keluarnya ruh dari jasadnya, ia berkata, “Ya Allah, inilah akibat ketidakhormatanku kepada wali-Mu, Yusuf al-Hamadani.”
Ibn Abi Asrun melanjutkan, “Sementara aku sendiri mengalami kehidupan yang berbeda. Aku datang ke Damaskus dan raja di sana , Nuruddin al-Syahid, memintaku untuk mengurusi bidang agama, dan aku menerima tugas itu. Sebagai hasilnya, dunia datang dari setiap penjuru: kekayaan, makanan, kemasyhuran, uang, dan kedudukan selama sisa hidupku. Itulah apa yang diramalkan oleh al-Ghawts Yusuf al-Hamadani untukku.” dikutip dari Encyclopaedia of Islamic Doctrine Vol.5: Tazkiyatun-Nafs/ Tasawwuf, Ihsan karya Syekh Muhammad Hisyam Kabbani ar-Rabbani
Nasihat Kiai Luqni
Cerpen: A Mustofa Bisri Jawa Pos, 11 Desember 2006
Berbeda dengan acara pengajian yang lain, pengajian dalam rangka haul, pengunjungnya jauh lebih banyak. Haul --berbeda dengan mauludan yang merupakan peringatan hari lahir Nabi Muhammad-- adalah peringatan hari wafat. Biasanya yang di-haul-i adalah kiai besar. Tapi sekarang setiap rang bisa dihauli, tergantung keluarganya.
Apabila keluarga seseorang yang sudah meninggal menghendaki dan mempunyai cukup biaya untuk mengadakan peringatan haul, sekarang ini bisa-bisa saja mengadakannya. Bedanya dengan haul kiai besar, haul keluarga ini segala sesuatunya hanya ditanggung dan ditangani oleh keluarga yang bersangkutan itu sendiri. Sementara haul kiai besar lazimnya diselenggarakan oleh masyarakat. Panitianya juga dibentuk oleh dan dari masyarakat. Keluarga kiai yang dihauli biasanya hanya didudukkan sebagai penasihat panitia.
Tradisi haul dengan pengajian besar-besaran semula dimaksudkan sebagaimana mauludan-- untuk mengenang jasa dan menuturkan sejarah kiai yang dihauli dengan tujuan agar diteladani oleh masyarakat.
Malam itu saya diundang pengajian haul kiai besar di daerah P. Saya datang tidak hanya karena saya mengenal Kiai Akrom yang dihauli sebagai tokoh yang dicintai masyarakat pada masa hidupnya, tapi juga ingin mendengarkan ceramah Kiai Luqni, seorang mubalig kondang yang berbeda dengan kebanyakan mubalig lain.
Kiai Luqni suaranya empuk, bicaranya sejuk. Tidak berkobar-kobar. Bila membaca ayat-ayat Quran selalu dilagukan dengan merdu. Ceramahnya mudah dicerna oleh berbagai lapisan masyarakat, baik yang terpelajar maupun yang awam. Kadang-kadang bicaranya diselingi dengan humor-humor segar yang tidak vulgar. Lebih dari itu; Kiai Luqni dalam ceramahnya, tidak pernah mengecam, menuding, atau apalagi mencaci orang. Tidak pernah menggurui, apalagi bersikap seolah-olah penguasa agama yang paling tahu kehendak Tuhan.
Di majelis haul, ribuan hadirin mengelu-elukan kedatangan da?I kecintaan mereka, Kiai Luqni. Mereka yang dekat dari tempat Kiai Luqni berjalan menuju ke rumah keluarga Kiai Akrom yang dihauli, berhamburan menyambut dan menciumi tangannya. Sementara yang jauh pada melambaikan tangan. Dengan tersenyum, Kiai Luqni membalas sambutan itu dengan wajah berseri-seri tanpa kesan bangga.
***
Acara berikutnya ialah acara inti, terdengar suara pembawa acara di pengeras suara, acara yang kita nanti-nantikan: mau`izhah hasanah dan tausiah dari almukarram Bapak Kiai Haji Luqni. Waktu dan tempat kami persilakan secukupnya!? ?
Kiai Luqni pun dengan tenang dan anggun naik ke panggung diiringi selawat hadirin dan hadirat. Kiai Luqni sendiri ikut membaca salawat sebelum kemudian duduk di kursi yang sudah disiapkan. Lalu menyampaikan salam. Sekalian hadirin seketika menyambut salam dengan gegap gempita; kemudian diam dan dengan tenang menyimak.
Dengan gamblang, Kiai Luqni menerangkan hikmahnya diadakan peringatan haul.
"Para hadirin, haul itu kebalikan dari peringatan maulid. Kalau peringatan maulid adalah peringatan kelahiran. Maulid Nabi adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Sedangkan haul merupakan peringatan kematian; biasanya memperingati wafatnya kiai yang meneruskan perjuangan Kanjeng Nabi seperti haul Kiai Akrom sekarang ini".
"Ini adalah haul Kiai Akrom yang ke-13. Berarti sudah 13 tahun Kiai Akrom wafat. Sudah 13 tahun kita ditinggalkannya. Tapi, lihatlah, selama itu kita yang sekian banyak ini masih terus mengenang dan mendoakan beliau. Mengapa? Karena kita semua merasa telah menerima jasa dan? kebaikan beliau. Beliau telah mengajarkan dan memberi teladan kepada kita hidup yang baik. Menunjukkan kepada kita mana yang baik dan mana yang buruk. Yang mestinya menjadi pertanyaan kita saat ini: apakah apabila kita meninggal akan dihauli dan dikenang orang banyak seperti Kiai Akrom ini; ataukah akan segera dilupakan oleh orang".
"Haul juga mengingatkan kepada kita akan kematian. Bahwa kita semua, tak pandang bulu, bila sudah sampai saatnya pasti dipanggil ke hadirat-Nya. Kita tak tahu kapan ajal kita tiba, tapi kita tahu bahwa itu pasti tiba".
"Ada dawuh yang mengatakan, Kafaa bilmauti waa`izhan. Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat. Orang yang tidak mempan dinasihati oleh kematian, jangan harapkan mempan dinasihati oleh lainnya".
"Orang yang selalu ingat bahwa dia akan mati, akan bersikap hati- hati. Sebaliknya mereka yang sembrono, yang sombong, yang jahat kepada sesama, biasanya adalah orang-orang yang lupa bahwa mereka akan mati".
"Tak ada seorang pun yang tahu kapan dan di mana akan mati. Seandainya kita tahu kapan dan di mana kita akan mati, maka kita bisa mempersiapkan diri. Tapi kita tidak tahu. Jadi, mestinya setiap saat kita harus bersiap-siap" .
Kiai Luqni kemudian menguraikan pentingnya mempersiapkan diri menyongsong kematian. "Mempersiapkan diri menyongsong kematian yang pasti itu, bisa kita lakukan dengan membiasakan perilaku yang baik. Sehingga kapan saja kita dipanggil Tuhan, kita dalam keadaan berperilaku baik. Jangan sampai kita membiasakan perilaku buruk, sehingga dikhawatirkan mati dalam keadaan buruk pula".
Kiai Luqni pun memberikan contoh-contoh beberapa tokoh yang dikenal dan diketahui hadirin. "Anda sekalian kenal, bukan, dengan Mbah Asnawi dari K? Kiai yang suka sembahyang itu? Beliau meninggal saat sujud. Alangkah beruntungnya dipanggil Tuhan dalam keadaan sedang bersujud kepada-Nya. Kiai Zaini dari D yang pekerjaannya mengajar para santri, wafat saat sedang mengajar para santrinya".
"Sebaliknya, di antara kalian pasti ada yang pernah membaca berita tentang seorang tokoh yang meninggal di sebuah kamar hotel dan ? maaf--berada di atas seorang wanita nakal. Masya Allah!"
"Memang, biasanya orang meninggal sesuai kesukaan atau kebiasaan hidupnya. Di tempat saya, ada orang yang suka judi dan mati pada saat berjudi. Ada yang suka minum, mati pada saat minum. Na?udzu billah. Anda sekalian mungkin sudah mendengar berita tentang seorang dosen yang meninggal saat memberi kuliah. Atau tentang penyair yang meninggal pada saat membaca puisi..."
Kiai Luqni berhenti sebentar, memperbaiki duduknya. Menarik nafas panjang, kemudian, dengan suara melirih, mendesiskan Astaghfirullah. Dan tak ada lagi kata-kata yang terdengar dari mubalig kondang ini.
Hadirin hanya melihat sosok Kiai Luqni yang duduk lunglai di tempat duduknya di atas panggung. Kepalanya tunduk hingga dagunya menyentuh dada. Suasana menjadi hening. Sampai beberapa orang panitia naik panggung setelah beberapa lama Kiai Luqni tak bersuara dan tak bergerak. Orang-orang pun kemudian melihat mubalig kesayangan mereka itu digotong turun.
Suasana pun berubah gempar. Kiai Luqni wafat. Sesuai ceramahnya, Kiai Luqni wafat pada saat sedang memberi nasihat. Kewafatannya meneguhkan nasihatnya.
Cukuplah kematian sebagai nasihat.
Link: http://suluk.blogsome.comBlog yang cukup bagus untuk pengenalan akan suluk, tariqah dan tasawuf.
A nice blog about finding your way in suluk, tasawuf/sufism, and tariqah

When a flame is thrown into another
flame they join at the point of "flameness." You throw
a torch at a candle and then you say, "See! I have
annihilated the candle's flame!"
(Ishan Kaiser in Speech of the Sages)
When you arrive at the sea, you
do not talk of the tributary.
(Hakim Sanai, The Walled Garden of Truth)
The mere physical man is like the ant crawling
on the paper, who observes black lettering and
attributes its production to the pen and nothing more.
(El Ghazali, Alchemy of Happiness)
If asked whether you love God, say nothing. This is because if you say,
'I do not
love God,'you are an unbeliever. If, on the other hand, you say, 'I do love
God,' your actions contradict you. (Fudayl)
True devotion is for itself: not to desire heaven nor to fear hell.
(Rabia el-Adawia)
Detach from fixed ideas and preconceptions. And face what is to be your
lot.
(Sheikh Abu-Said Ibn Abi-Khair)
Deep in the sea are riches beyond compare.
But if you seek safety, it is on the shore.
(Saadi, Rose Garden)
When you are still fragmented, lacking certainty -- what difference does
it make
what your decisions are?
(Hakim Sanai, The Walled Garden of Truth)
Even though you tie a hundred knots -- the string remains one. (Rumi)
I asked a child, walking with a candle, "From where comes that
light?"
Instantly he blew it out. "Tell me where
it is gone -- then I will tell you where it came from." (Hasan of Basra)
There are three indications of real
generosity: To remain steadfast without resisting, to praise without the emotion
of
generosity, and to give before being asked.
(Maaruf Karkhi)
Cease, Man, to mourn, to weep, to wail; enjoy the shining hour of sun;
We dance along Death's icy brink, but is the dance less full of fun?
(Sir Richard Burton, The Kasidah)
Enough to think that Truth can be;
come sit we where the roses glow;
Indeed, he knows not how to know
who knows not also how to unknow.
(Sir Richard Burton, The Kasidah)
Innumerable changes of moods are yours, and they are uncontrolled by
you. If you
knew their origin, you would be able to dominate them. If you cannot localize
your
own changes, how can you localize that which formed you?
(Rumi, Fihi Ma Fihi)
I fear that you will not reach Mecca,
O Nomad -- For the road which you are following leads to Turkestan.
(Sheikh Saadi, Rose Garden)
One went to the door of the Beloved and knocked.
A voice asked, "Who is there?"
He answered, "It is I."
The voice said, "There is no room for Me and Thee."
The door was shut.
After a year of solitude and deprivation he returned and knocked.
A voice within asked, "Who is there?"
The man said, "It is Thee."
The door was opened for him. (Rumi)
By yourself you can do nothing: seek a friend.
If you could taste the slightest bit of your
insipidity, you would recoil from it.
(Nizami, Treasury of Mysteries)
A man came to Libnani, a Sufi teacher, and this interchange took place:
Man: "I wish to learn, will you teach me?"
Libnani: "I do not feel that you know how to learn."
Man: "Can you teach me how to learn?"
Libnani: "Can you learn how to let me teach?" (Libnani)
Kindness to the young
Generosity to the poor
Good counsel to friends
Tolerance with enemies
Indifference to fools
Respect to the learned.
(Sheikh Abdullah Ansari, Sufi Law of Life)
| |