What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cinta
Sembilan Wali di antara para Awliya' Allah yang berjasa mengIslamkan tanah Jawa dan Nusantara dengan cinta dan adab, lewat Tasawwuf, secara damai.
Mudah-mudahan setiap muslim Indonesia selalu mengingat sejarah ini dan berusaha untuk tetap dekat dengan Awliya', para Kekasih Allah yang telah wafat maupun yang hidup.
Sepeninggal Nabi, selalu ada 124.000 Awli'ya (jama' dari Wali) Allah yang mewarisi ilmu dan akhlaq beliau. Sebagaimana Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pernah bersabda, "Al-Ulama' waratsatul Anbiya'", 'Para ulama sejati adalah pewaris para Nabi' [Riwayat Bukhari secara muallaq]. Dalam sabda beliau yang lain, "Ulama-u ummatii ka-anbiya-i min Bani Israail", Ulama sejati dari ummatku adalah seperti Nabi-nabi dari kalangan Bani Israil, maksudnya dalam hal ilmu dan hikmah.
Kewajiban kita untuk mencari mereka, para ulama' dan awliya' kekasih Allah yang sejati ini, dan bergaul dengan mereka, menimba ilmu dan adab serta cinta dari mereka, sebagaimana mereka mendapatkan ilmu, adab, dan cinta dari guru-guru mereka lewat sanad yang tak terputus hinggga dari para sahabat dan dari Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam.
A'lallahu darajaatihim wa nafa'anallahu bi barakaatihim wa 'ilmihim bihurmati man anzalta alayhi suuratul Faatihah!
Beberapa lukisan atau foto dari Awliya'ullah (Kekasih Allah) dari Tariqah An-Naqshbandiyyah al-'Aliyyah. Beberapa di antaranya telah wafat. Dan beberapa masih hidup, dan akan menjadi Wazir utama saat datangnya Sayyidina Mahdi nanti, insya Allah.
A'lallahu darajaatihim wa nafa'anallahu bihim. bihurmati man anzalta 'alayhi suuratul Faatihah
disampaikan oleh Mawlana Syaikh Nazim 'Adil Al Haqqani, Sulthanul Awliya', saat kunjungan beliau ke Indonesia, Mei 2001. Disampaikan saat kunjungan beliau ke Pekalongan, ke Pesantren At-Tahiriyah, di mana ada tradisi pembacaan Dalailul Khayrat setiap ba'da Asar, yang telah berlangsung selama 150 tahun.
The city that’s bright Where you’ll become light Of all worries and burdens When you set sight your heart will delight At the wonders of Madinah
Madinah-tun-Nabi
The city so sweet, Madinah-tun-Nabi My heart is at ease, Madinah-tun-Nabi
Chorus
The city, the people, the street, the markets, the dwellings, everything Dawn and dusk, morning and night, sunset, every moment Everything is peace In Madinah-tun-Nabi My heart is at ease In Madinah-tun-Nabi
Chorus
The city of love: Madinah-tun-Nabi The city from above: Madinah-tun-Nabi Rejoice every one: Madinah-tun-Nabi
Dedicated for the commemoration and celebration of the birthday, Migration day, and Passing away day of the Greatest Mu'allim/Teacher ever living in this world, Sayyidina Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam.
Ya Habiibii, Yaa Sayyidii, Yaa Rasulii, Yaa Muhammad, Sholatullah wa salaamuhu 'alayka, Yaa Qurrata 'Ayni!
Allahumma salli 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala aalihi wasahbihi wasallim
We once had a Teacher The Teacher of teachers, He changed the world for the better And made us better creatures,
Oh Allah we’ve shamed ourselves We’ve strayed from Al-Mu'allim, Surely we’ve wronged ourselves What will we say in front him?
Oh Mu'allim...
Chorus He was Muhammad salla Allahu 'alayhi wa sallam, Muhammad, mercy upon Mankind, Teacher of all Mankind.
Abal Qasim [one of the names of the Prophet] Ya Habibi ya Muhammad (My beloved O Muhammad)
Ya Shafi'i ya Muhammad (My intercessor O Muhammad)
Khayru khalqillahi Muhammad (The best of Allah’s creation is Muhammad)
Ya Mustafa ya Imamal Mursalina (O Chosen One, O Imam of the Messengers)
Ya Mustafa ya Shafi'al 'Alamina (O Chosen One, O intercessor of the worlds)
---
He prayed while others slept While others ate he’d fast, While they would laugh he wept Until he breathed his last,
His only wish was for us to be Among the ones who prosper, Ya Mu'allim peace be upon you, Truly you are our Teacher,
Oh Mu'allim..
Chorus
He was Muhammad salla Allahu 'alayhi wa sallam, Muhammad, mercy upon Mankind, Teacher of all Mankind.
Ya Habibi ya Muhammad (My beloved O Muhammad)
Ya Shafi'i ya Muhammad (My intercessor O Muhammad)
Ya Rasuli ya Muhammad (O My Messenger O Muhammad)
Ya Bashiri ya Muhammad (O bearer of good news O Muhammad)
Ya Nadhiri ya Muhammad (O warner O Muhammad)
'Ishqu Qalbi ya Muhammad (The love of my heart O Muhammad)
Nuru 'Ayni ya Muhammad (Light of my eye O Muhammad)
---
He taught us to be just and kind And to feed the poor and hungry, Help the wayfarer and the orphan child And to not be cruel and miserly,
His speech was soft and gentle, Like a mother stroking her child, His mercy and compassion, Were most radiant when he smiled
Chorus
He was Muhammad salla Allahu 'alayhi wa sallam, Muhammad, mercy upon Mankind, He was Muhammad salla Allahu 'alayhi wa sallam, Muhammad, mercy upon Mankind, Teacher of all Mankind.
Abal Qasim [one of the names of the Prophet] Ya Habibi ya Muhammad (My beloved O Muhammad)
Ya Shafi'i ya Muhammad (My intercessor O Muhammad)
Khayru khalqillahi Muhammad (The best of Allah’s creation is Muhammad)
Ya Mustafa Ya Imamal Mursalina (O Chosen One O Imam of the Messengers)
Ya Mustafa ya Shafi'al 'Alamina (O Chosen One O intercessor of the worlds)
Aku merindukanmu o Muhammadku Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah Menatap mataku yang tak berdaya Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan Mencari-cari tangan Lembuat-wibawamu
Dari dada-dada tipis papan Terus kudengar suara serutan Derita mengiris berkepanjangan Dan kepongahan tingkah meningkah Telingaku pun kutelengkan Berharap sesekali mendengar Merdu-menghibur suaramu
Sebuah film tentang persahabatan dua sahabat Afghan, sejak masa mereka anak-anak sebelum invasi Sovyet, hingga ketika salah satu dari mereka harus mati di tangan rezim Taliban, mempertahankan amanat keluarga sahabatnya.
Sebuah film tentang kesetiaan dan pengkhianatan karena kepengecutan. Film yang mesti ditonton, setelah sekian lama Hollywood kering akan film-film bermutu.
A must see movie untuk para SuFi (Suka Film).
Petikan kata yang paling berkesan dari Hassan kepada Amir, dan kemudian dari Amir kepada Sohrab, putra Hasan, di akhir film: "Untukmu aku akan kembali seribu kali!"
PERINGATAN: BUKAN film anak-anak! Walaupun pemeran utamanya adalah anak-anak, khususnya ketika flashback situasi Afghanistan.
Orang-orang menyebutnya Bu Ali. Seorang perempuan tua, lengkap dengan guratan ketuaan di wajahnya, yang saban hari masih aktif berkeliling menarik kotak Yakult yang dijualnya. Tak ada yang tampak istimewa dari perempuan itu sampai kita mendengar sepenggal kisah dari kehidupannya. Begini;
"Suatu hari, orang-orang ribut. Katanya, ada bayi ditemukan di tempat sampah. Saya dipanggil karena saya dukun pijat bayi. Saya datang. Bayi itu dibungkus dengan kain ulos Batak. Waktu saya buka, masya Allah, bayi itu tidak punya kulit. Jadi bayinya merah daging, dengan di beberapa bagian telah menggembung ...."
Bu Ali membawa pulang bayi itu. Ia sempat membawanya beberapa kali ke klinik. Entah penanganan apa yang diberikan. Yang pasti akhirnya bayi itu tetap kembali ke pangkuan Bu Ali, yang terus berpikir keras menyelamatkan sang bayi. Sebagai alas tidur bayi, ia menyiapkan daun pisang. "Saya takut badannya lengket kalau alasnya kain." Tentu ia harus mencari daun pisang setiap hari, sebagaimana halnya menyiapkan air hangat buat mandi sang bayi.
Tak ada orang lain yang sanggup memandikan bayi itu. Perasaan jijik dan tidak tega bercampur menjadi satu. Para tetangga saban waktu datang ke rumahnya, sekadar untuk melampiaskan rasa ingin tahu, lalu bergidik 'hiii ....' Dengan tangan telanjang Bu Ali mengusap setiap senti daging merah bayi itu. Masih ada semacam kulit tipis di beberapa bagian tubuh bayi itu. Kulit tipis itu mengelupas saat dimandikan. Begitu pula kuku-kuku tangan dan kakinya. Usai memandikan, ia akan mengusap seluruh permukaan tubuh bayi itu dengan minyak zaitun, lalu menjemurnya di sinar matahari.
Getah bening akan keluar dari seluruh permukaan daging itu. Bu Ali akan mengelapnya hingga bersih, sebelum mengusapnya kembali dengan minyak bayi. Bila malam, ia akan mengusapnya dengan semacam talek bayi.
Hari demi hari Bu Ali melakukan itu. Beberapa bulan ketekunannya berbuah. Lapisan kulit tipis menutupi daging itu. Secara berangsur kulit itu menebal menjadi kulit normal yang terang. Dengan segala kekurangannya, Bu Ali merawatnya hingga kini menjadi pemuda yang keren dan jenius. Selangkah lagi bayi buangan tak berkulit itu akan menjadi sarjana dari sebuah universitas negeri.
Bukan kali ini saja Bu Ali mengasuh anak. Ada bayi yang diasuhnya setelah sang ibu diusir dan terpaksa menggelandang di pasar. Ada anak tanggung yang bingung di jalanan karena ditinggal begitu saja oleh pamannya. Anak-anak itu ditampungnya hingga dewasa dan mendapat kerja. Kini Bu Ali harus mengasuh tiga cucunya. Ibu anak itu meninggal setelah lama dirawat di rumah sakit. Ia dihajar suaminya, begitu memergoki sang suami itu berzina di kamarnya sendiri. Bu Ali juga harus pasang badan sendirian menghadapi puluhan warga RT tetangga yang ingin membongkar warung kecil penopang ekonomi keluarganya. Penghasilan suaminya sebagai pekerja di pompa bensin kecil, jauh dari memadai.
Ia memang bukan Tjoet Nya' Dhien, Nyi Ageng Serang, atau Joan D'Arch. Tapi, ia juga seorang perempuan perkasa. Sebuah model keperkasaan yang ditunjukkan secara luar biasa oleh Khadijah. Khadijah, di usianya yang lebih dari setengah abad, pulang balik mendaki Gunung Nur mengantarkan makanan bagi suaminya, Muhammad SAW, berkontemplasi di sana. Ia yang selalu membesarkan hati Nabi, baik saat gamang karena wahyu lama tak turun, maupun saat penistaan dan pengucilannya di Makkah.
Keperkasaan serupa ditunjukkan oleh Ummu Salamah yang dinikahi Nabi setelah Khadijah wafat. Di Hudaibiyah, ketika para sahabat memboikot seruan Nabi karena menolak perjanjian dengan Quraish, Ummu Salamahlah yang menjadi pemberi solusi.
Keluarga, masyarakat, bahkan negara akan berjaya bila perempuannya perkasa. Itu yang diajarkan agama. Keperkasaan perempuan pula yang menjadi salah satu kunci kejayaan bangsa Cina kini. Itu terjadi setelah Mao melarang pemakaian sepatu kecil yang membelenggu kaki perempuan.
Mao juga mendorong para perempuan aktif mengaktualisasi diri, dan bukan untuk bermanja menikmati menjadi penghibur (dan kadang sasaran pelecehan) suami. Figur Khadijah cukup menginspirasi bangsa ini untuk menjadikan para perempuannya perkasa seperti Bu Ali. Itu yang akan menjadikan rumah-rumah tangga, masyarakat, bahkan bangsa berjaya dan bahagia.