ReviewReviewReviewReviewReviewNasihat Kiai LuqniMay 14, '07 12:30 PM
for everyone
Category:Other
Nasihat Kiai Luqni

Cerpen: A Mustofa Bisri
Jawa Pos, 11 Desember 2006

Berbeda dengan acara pengajian yang lain, pengajian dalam rangka
haul, pengunjungnya jauh lebih banyak. Haul --berbeda dengan
mauludan yang merupakan peringatan hari lahir Nabi Muhammad-- adalah
peringatan hari wafat. Biasanya yang di-haul-i adalah kiai besar.
Tapi sekarang setiap rang bisa dihauli, tergantung keluarganya.

Apabila keluarga seseorang yang sudah meninggal menghendaki dan
mempunyai cukup biaya untuk mengadakan peringatan haul, sekarang ini
bisa-bisa saja mengadakannya. Bedanya dengan haul kiai besar, haul
keluarga ini segala sesuatunya hanya ditanggung dan ditangani oleh
keluarga yang bersangkutan itu sendiri. Sementara haul kiai besar
lazimnya diselenggarakan oleh masyarakat. Panitianya juga dibentuk
oleh dan dari masyarakat. Keluarga kiai yang dihauli biasanya hanya
didudukkan sebagai penasihat panitia.

Tradisi haul dengan pengajian besar-besaran semula dimaksudkan
sebagaimana mauludan-- untuk mengenang jasa dan menuturkan sejarah
kiai yang dihauli dengan tujuan agar diteladani oleh masyarakat.

Malam itu saya diundang pengajian haul kiai besar di daerah P. Saya
datang tidak hanya karena saya mengenal Kiai Akrom yang dihauli
sebagai tokoh yang dicintai masyarakat pada masa hidupnya, tapi juga
ingin mendengarkan ceramah Kiai Luqni, seorang mubalig kondang yang
berbeda dengan kebanyakan mubalig lain.

Kiai Luqni suaranya empuk, bicaranya sejuk. Tidak berkobar-kobar.
Bila membaca ayat-ayat Quran selalu dilagukan dengan merdu.
Ceramahnya mudah dicerna oleh berbagai lapisan masyarakat, baik yang
terpelajar maupun yang awam. Kadang-kadang bicaranya diselingi
dengan humor-humor segar yang tidak vulgar. Lebih dari itu; Kiai
Luqni dalam ceramahnya, tidak pernah mengecam, menuding, atau
apalagi mencaci orang. Tidak pernah menggurui, apalagi bersikap
seolah-olah penguasa agama yang paling tahu kehendak Tuhan.

Di majelis haul, ribuan hadirin mengelu-elukan kedatangan da?I
kecintaan mereka, Kiai Luqni. Mereka yang dekat dari tempat Kiai
Luqni berjalan menuju ke rumah keluarga Kiai Akrom yang dihauli,
berhamburan menyambut dan menciumi tangannya. Sementara yang jauh
pada melambaikan tangan. Dengan tersenyum, Kiai Luqni membalas
sambutan itu dengan wajah berseri-seri tanpa kesan bangga.

***

Acara berikutnya ialah acara inti, terdengar suara pembawa acara di
pengeras suara, acara yang kita nanti-nantikan: mau`izhah hasanah
dan tausiah dari almukarram Bapak Kiai Haji Luqni. Waktu dan tempat
kami persilakan secukupnya!? ?

Kiai Luqni pun dengan tenang dan anggun naik ke panggung diiringi
selawat hadirin dan hadirat. Kiai Luqni sendiri ikut membaca salawat
sebelum kemudian duduk di kursi yang sudah disiapkan. Lalu
menyampaikan salam. Sekalian hadirin seketika menyambut salam dengan
gegap gempita; kemudian diam dan dengan tenang menyimak.

Dengan gamblang, Kiai Luqni menerangkan hikmahnya diadakan
peringatan haul.

"Para hadirin, haul itu kebalikan dari peringatan maulid. Kalau
peringatan maulid adalah peringatan kelahiran. Maulid Nabi adalah
peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Sedangkan haul merupakan
peringatan kematian; biasanya memperingati wafatnya kiai yang
meneruskan perjuangan Kanjeng Nabi seperti haul Kiai Akrom sekarang
ini".

"Ini adalah haul Kiai Akrom yang ke-13. Berarti sudah 13 tahun Kiai
Akrom wafat. Sudah 13 tahun kita ditinggalkannya. Tapi, lihatlah,
selama itu kita yang sekian banyak ini masih terus mengenang dan
mendoakan beliau. Mengapa? Karena kita semua merasa telah menerima
jasa dan? kebaikan beliau. Beliau telah mengajarkan dan memberi
teladan kepada kita hidup yang baik. Menunjukkan kepada kita mana
yang baik dan mana yang buruk. Yang mestinya menjadi pertanyaan kita
saat ini: apakah apabila kita meninggal akan dihauli dan dikenang
orang banyak seperti Kiai Akrom ini; ataukah akan segera dilupakan
oleh orang".

"Haul juga mengingatkan kepada kita akan kematian. Bahwa kita semua,
tak pandang bulu, bila sudah sampai saatnya pasti dipanggil ke
hadirat-Nya. Kita tak tahu kapan ajal kita tiba, tapi kita tahu
bahwa itu pasti tiba".

"Ada dawuh yang mengatakan, Kafaa bilmauti waa`izhan. Cukuplah
kematian sebagai pemberi nasihat. Orang yang tidak mempan dinasihati
oleh kematian, jangan harapkan mempan dinasihati oleh lainnya".

"Orang yang selalu ingat bahwa dia akan mati, akan bersikap hati-
hati. Sebaliknya mereka yang sembrono, yang sombong, yang jahat
kepada sesama, biasanya adalah orang-orang yang lupa bahwa mereka
akan mati".

"Tak ada seorang pun yang tahu kapan dan di mana akan mati.
Seandainya kita tahu kapan dan di mana kita akan mati, maka kita
bisa mempersiapkan diri. Tapi kita tidak tahu. Jadi, mestinya setiap
saat kita harus bersiap-siap" .

Kiai Luqni kemudian menguraikan pentingnya mempersiapkan diri
menyongsong kematian. "Mempersiapkan diri menyongsong kematian yang
pasti itu, bisa kita lakukan dengan membiasakan perilaku yang baik.
Sehingga kapan saja kita dipanggil Tuhan, kita dalam keadaan
berperilaku baik. Jangan sampai kita membiasakan perilaku buruk,
sehingga dikhawatirkan mati dalam keadaan buruk pula".

Kiai Luqni pun memberikan contoh-contoh beberapa tokoh yang dikenal
dan diketahui hadirin. "Anda sekalian kenal, bukan, dengan Mbah
Asnawi dari K? Kiai yang suka sembahyang itu? Beliau meninggal saat
sujud. Alangkah beruntungnya dipanggil Tuhan dalam keadaan sedang
bersujud kepada-Nya. Kiai Zaini dari D yang pekerjaannya mengajar
para santri, wafat saat sedang mengajar para santrinya".

"Sebaliknya, di antara kalian pasti ada yang pernah membaca berita
tentang seorang tokoh yang meninggal di sebuah kamar hotel dan ?
maaf--berada di atas seorang wanita nakal. Masya Allah!"

"Memang, biasanya orang meninggal sesuai kesukaan atau kebiasaan
hidupnya. Di tempat saya, ada orang yang suka judi dan mati pada
saat berjudi. Ada yang suka minum, mati pada saat minum. Na?udzu
billah. Anda sekalian mungkin sudah mendengar berita tentang seorang
dosen yang meninggal saat memberi kuliah. Atau tentang penyair yang
meninggal pada saat membaca puisi..."

Kiai Luqni berhenti sebentar, memperbaiki duduknya. Menarik nafas
panjang, kemudian, dengan suara melirih, mendesiskan Astaghfirullah.
Dan tak ada lagi kata-kata yang terdengar dari mubalig kondang ini.

Hadirin hanya melihat sosok Kiai Luqni yang duduk lunglai di tempat
duduknya di atas panggung. Kepalanya tunduk hingga dagunya menyentuh
dada. Suasana menjadi hening. Sampai beberapa orang panitia naik
panggung setelah beberapa lama Kiai Luqni tak bersuara dan tak
bergerak. Orang-orang pun kemudian melihat mubalig kesayangan mereka
itu digotong turun.

Suasana pun berubah gempar. Kiai Luqni wafat. Sesuai ceramahnya,
Kiai Luqni wafat pada saat sedang memberi nasihat. Kewafatannya
meneguhkan nasihatnya.

Cukuplah kematian sebagai nasihat.

paysyafei wrote on May 15, '07
Cukuplah kematian sebagai nasihat.
Bener banget tuh...
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help